ROADSHOW BUKU DI DESA SURUMANA

 

Perpustakaan Mini Nemu Buku seringkali melakukan roadshow buku atau gelar buku gratis. Kegiatan ini dilakukan setiap hari minggu sore, bertempat di taman-taman kota seperti lapangan vatulemo, Anjungan Nusantara dan terakhir di pinggir pantai daerah Tipo. Sabtu 28 juli kemarin, Nemu Buku bekerja sama dengan beberapa komunitas seperti, TBM Pelita, MLAN, Sou Poumbaca Tata Vuri, dan juga lembaga pers mahasiswa Filantropi dari fakultas sastra UNISA.

Kerja sama ini dilakukan dalam kegiatan roadshow buku yang akan dilaksanakan di desa Surumana. Sekitar jam 12:30, Arfan (Nemu Buku), Fauzi (MLAN), Idham (TBM Pelita), Irzan dan Yoyo (Sou Poumbaca Tata Vuri), dan beberapa teman lain termasuk saya dari lembaga pers mahasiswa Filantropi berangkat dari Tanjung Tururuka ke desa Surumana.

IMG-20180729-WA0012Desa Surumana merupakan perbatasan antara Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat. Daerah ini adalah dataran rendah yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan nelayan. Sebagian besar masyarakat Surumana bersuku Kaili Ledo, dan hanya sebagian saja suku campuran seperti, bugis dan lainnya. Saat sampai di desa Surumana, kami disambut baik oleh masyarakat  desa itu, terutama anak-anak kecil yang sangat antusias saat kami mulai menggelar buku-buku yang kami bawa.

Sebelum benar-benar membuka roadshow buku secara resmi di surumana, beberapa dari kami menghaturkan tabe kepada kepala dusun di sana, kemudian kami juga bertemu dengan pemuda karang taruna untuk bekerja sama selama kami melakukan kegiatan di desa itu. Roadshow buku resmi kami buka, dan anak-anak yang ada di sekitar tempat kami menggelar buku langsung berdatangan untuk melihat dan membaca buku yang kami bawa, bahkan mereka juga memanggil teman-temannya yang lain untuk ikut bergabung bersama mereka.

Malam harinya kami melakukan pertemuan dengan pemuda karang taruna di sana, dan ternyata di Surumana cukup banyak pemuda yang tergabung dalam kelompok karang taruna tersebut. Sebagian besar, mereka adalah mahasiswa yang juga mengenyam pendidikan di Palu, dan sebagian lagi ada yang menjadi guru atau pengabdi di desanya. Menurut mereka, kegiatan seperti gelar buku ini sangat bagus dan mereka berharap agar kegiatan ini bisa berlangsung secara terus menerus di desanya.

Salah satu dari mereka memaparkan bahwa, yang menjadi kendala di desanya adalah kurangnya minat baca anak-anak di desa itu, bahkan anak-anak sekolahnya sekalipun. Hal itu dapat terlihat saat kami melakukan gelar buku, sebagian besar yang datang memang anak-anak yang masih berada ditingkat TK, atau kelas 1-2 SD. Kami nyaris tidak menemukan ada anak-anak setingkat SMP atau SMA yang datang untuk membaca atau bahkan melihat buku yang kami bawa, kalaupun ada, itu hanya ada 1 sampai 2 orang saja.

Selain itu, menurut mereka yang menjadi kendala dalam kurangnya minat baca di desa Surumana adalah, kurangnya akses seperti perpustakaan daerah yang tidak ada di sana. Mereka menerangkan bahwa, sebenarnya ada buku-buku yang tersimpan di kantor desa, hanya saja sampai saat ini, belum ada orang yang ditunjuk atau diberi kepercayaan untuk mengelola buku-buku tersebut, paling tidak agar anak-anak di desa itu memiliki akses bacaan yang cukup, sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kedatangan kami di Surumana membawa harapan baru bagi anak-anak karang taruan di sana. Mereka bahkan berfikir akan melakukan roadshow buku di sekolah-sekolah yang ada di desa itu pada saat aktifitas sekolah masih berlangsung, agar anak-anak di sana bisa termotivasi untuk meningkatkan minat bacanya.

Masalah yang dihadapi oleh masyarakat desa Surumana kurang lebih sama seperti masalah yang ada di kota Palu. Hanya saja mungkin di Palu, akses bacaan jauh lebih baik dibandingkan dengan desa Surumana yang akses bacaannya sangat minim. Tetap saja, yang menjadi kendala utama adalah kurangnya minat baca dari masyarakatnya sendiri. Mulai dari tingkat SD sampai universitas, minat baca menjadi momok yang belum terpecahkan pagi para pegiat literasi. Gelar buku gratis yang selalu dilakukan secara rutin misalnya, nyatanya belum mampu menarik masyarakat teruma kaum pelajar untuk menjadikan buku sebagai jendela dunia.

Zaman yang serba praktis, membuat manusianya juga berfikir secara praktis. Mungkin inilah yang menjadi salah satu sebab kurangnya minat baca. Karena semua hal dapat diakses lewat media online, bahkan tugas-tugas sekolah atau kuliah pun dapat didapatkan dengan mudah dengan menggunakan internet. Perkembangan teknologi memang  seharusnya menjadi kemudahan, tapi kemudahan yang dimaksud seharusnya mampu mengembangkan pola berfikir para penggunanya, dan buku tetaplah harus menjadi paket lengkap yang dibutuhkan.

Roadshow buku yang kami lakukan di Surumana menjadi pengalaman sekaligus pelajaran baru bagi para pegiat literasi, dan kami berharap kegiatan ini akan terus berlanjut ke penjuru desa lain yang mungkin mempunyai masalah yang sama, atau bahkan kendala yang lebih pelik dari yang kami dapatkan di desa Surumana.

Advertisements